<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="589">
 <titleInfo>
  <title>Bumi Manusia</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Toer, Pramoedya Ananta</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
   <publisher>Lentera Dipantara</publisher>
   <dateIssued>2005</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>535 hlm., 19 cm.</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern. Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban. Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu .... Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini. &quot;Kita kalah, Ma,&quot; bisikku. &quot;Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.&quot;</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>fiksi</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>roman</topic>
 </subject>
 <classification>813</classification>
 <identifier type="isbn">9789799731234</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan SMA BSS </physicalLocation>
  <shelfLocator>813 TOE b</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">0011761</numerationAndChronology>
    <sublocation>RAK KARYA FIKSI</sublocation>
    <shelfLocator>813 TOE b</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>img637.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>589</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-04-01 09:32:38</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-04-01 09:32:38</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>